Saturday, August 14, 2010

Today's Equality

Ketika saya duduk di bangku SMA (kelas 3) saya pernah berteman (cukup) akrab dengan seorang anak pria, sebutlah si W (inisial samaran). Kami lumayan kompak di dalam kelas, baik dalam mendiskusikan pelajaran maupun dalam mengambil keputusan untuk kepentingan kelas. Maklum, kami berdua, walaupun tidak terbilang bodoh, cukup terkenal akan kemalasannya dan lumayan suka jadi 'kompor' atau bahasa halusnya agak mood-moodan dan agak vokal. Waktu berjalan, selepas kelulusan SMA kami tidak pernah berhubungan lagi. Saya kuliah di Bali sedangkan dia kuliah di Jakarta. Saya cukup mendengar sedikit kabar burung tentang dia dari beberapa teman sekelas semasa di kelas IPA dulu. Kabar burung maksudnya bukan kabar si burung ataupun gosip lho, namun hanya sedikit mengenai keadaan dia saja.
Tidak ada angin tidak ada hujan, beberapa waktu yang lalu si W mulai menghubungi saya (sekitar bulan Juli 2010). Sebagai seorang yang menganut paham tidak-ada-yang-kebetulan-di-dunia-ini, saya cukup terkejut dan bertanya "Kok bisa ya, Tuhan?" he he soalnya kami memang sudah bertahun-tahun loose contact. Anehnya, ketika pertama kali kami berbicara melalui telepon kembali, tidak ada perasaan canggung ataupun menjaga jarak. Dia masih tetap si W yang bocor namun dalam versi yang lebih dewasa. Senang rasanya bisa ngobrol sama dia. Singkatnya, kami semakin intense berhubungan semenjak saat itu, baik via telepon maupun sms. Kadang saya harus memaksa diri saya untuk membalas smsnya, padahal saya paling males smsan (kerugian ber-smsan menurut saya: jempol sakit, ngabisin waktu, memicu untuk mengirim ataupun menerima sms, jadinya sambung-menyambung kayak kereta api tutt.. tutt.. tutt..). Beberapa hari setelah kami saling bertukar cerita, si W pelan-pelan mau membuka dirinya pada saya (lebih mendalam). Dia mengawali percakapan hari itu dengan sms menyapa dan bertanya kabar. Kemudian setelah beberapa lama saling berkirim pesan dia mulai bercerita tentang penyimpangan yang dia alami. Dia mengaku bahwa dia seorang Gay. Saya tidak kaget sih karena jujur saja, saya sudah merasakan bibit-bibit gay nya semenjak di SMA. Dia lebih menikmati bergaul dengan wanita dan matanya sedikit aneh ketika melihat pria. Saya juga sudah ada feeling kalau dia bakalan ngaku kalau dia seorang gay, cuma saya pura-pura tidak tahu saja dan lebih memilih menunggu dia untuk menceritakannya sendiri sebelum saya menarik kesimpulan apapun. Cukup sedih karena akhirnya dia memilih (menyerah) untuk menjadi seorang gay. Malam harinya saya berdoa bagi dia dan keesokkan harinya saya bertanya lebih mendalam soal perjalanan ke-gay-an-nya. Setelah mendengar dia bercerita, saya menyarankan dia untuk menemui psikiater karena menurut saya, selain ada roh jahat yang hinggap di tubuhnya, itu juga bisa disebabkan oleh kejiwaannya yang bermasalah (saya menolak pendapat yang mengatakan bahwa ada orang yang dilahirkan sebagai gay ataupun lesbian, nonsense). W berkata sudah mencoba segala cara untuk menyembuhkan dirinya, dari mulai pergi ke dokter, psikolog, dukun, kyai, bahkan pengobatan akupunktur. Namun hasilnya nihil. Dia tetap menyukai sesama jenisnya. Saya pun tidak bisa berkata lebih jauh selain berdoa. Saya percaya akan kekuatan doa :) Hal ini diperparah dengan berita beberapa hari kemudian bahwa si W dilamar oleh pacarnya, pastinya seorang pria. Pun saya speechless.

Pada tanggal 5 Agustus yang lalu, Pengadilan Tinggi Negara bagian California menolak Preposition 8 yang berisi  penolakan terhadap pernikahan sejenis yang dilakukan oleh kaum gay maupun lesbian. Saya kurang mengikuti perkembangan berita sebelumnya (ihwalnya) namun yang saya dengar perdebatan soal ini sudah terjadi bertahun-tahun dan cukup alot. Orang-orang dibelakang terbentuknya Preposition 8 ini datang dari berbagai kalangan, termasuk Pendeta dan (kalau tidak salah) Jaksa. Mereka, dengan segudang argumennya, menolak persamaan hak pernikahan kaum gay lesbian dengan kaum berbeda jenis kelamin. Kaum 'oposisi' juga tidak mau kalah. Dengan bertamengkan persamaan hak, mereka memperjuangkan pelegalan pernikahan sejenis. Dahulu, Pro-Preposition 8 memiliki banyak suara, namun sekarang, dengan semakin derasnya teriakan untuk persamaan hak di berbagai negara, khususnya di US, suara untuk Pro-Preposition 8 menurun drastis. Pada tanggal 5 Agustus 2010, Prepostion 8 ditolak oleh Pengadilan Tinggi Negara bagian California. Kaum gay dan lesbian bebas menikah. Kapanpun.

Saya perlu menelan ludah setelah saya membaca headline soal ini. Saya juga membaca komentar beberapa aktor, aktris, penyanyi dan bintang-bintang papan atas lainnya yang mensyukuri kekalahan Prepostion 8. Para orang-orang berpengaruh. Sungguh miris.
Saya sadar, dunia mulai kehilangan jati dirinya, hmm.. tunggu.. ataukah justru dunia semakin menemukan jati dirinya? Mungkinkah dunia punya jati diri?
Teringat tentang perjalan saya beberapa ratus tahun yang lalu (Edward Cullen kaliii..), saya pernah berlabuh di dermaga kaum feminist. Saya menyukai pemikiran para feminist yang meneriakkan tentang persamaan hak dengan kaum pria. Bagaimana kaum feminist ingin disamakan derajatnya dengan para pria. Namun, setelah saya mengenal Tuhan Yesus, pemikiran itu diubahkan. Frankly speaking, we'll never be the same like men. Saya bersyukur untuk perjuangan Ibu (kita) Kartini dalam usahanya Membawa-Keluar-Kaum-Wanita-Dari-Jerat-Dapur-dan-Kamar-Tidur. Dia sangat-sangat berjasa. Tapi saya pikir bukan pemikiran kaum feminist seperti itu yang diinginkan Ibu Kartini. Bukan kebebasan tanpa batas. Bukan persamaan hak seperti itu, namun yang ingin disampaikan Ibu Kartini adalah perubahan cara pandang kaum pria terhadap wanita.
Kembali kepada persamaan hak. Saya menilai persamaan derajat dan hak yang didengungkan kaum feminist tidak logis. Bagaimana mungkin seorang pria bisa disamakan dengan wanita?

M + N = MN

bukan

M + N = M ataupun M + N = N

Kita berbeda. Pria dan wanita berbeda. Pria dengan pria yang lainnya berbeda, begitu juga dengan wanita. We're one of a kind to each other. Kita tidak mungkin sama (equal) dari dulu, sekarang, sampai selamanya.
Jika dikaitkan dengan pernikahan sejenis yang ingin diakui haknya dengan pernikahan lawan jenis, menurut saya itu GILA dan ABNORMAL. Entah kenapa orang bisa berpikir untuk menganggap hal itu biasa saja, padahal di abad pertengahan, orang yang menyukai sesama jenis dianggap sebagai orang nista, kerasukan setan, dan atau memiliki penyakit mental. Kemudian orang yang memiliki kecenderungan ini nantinya akan di hukum dengan cara di bakar, diasingkan, ataupun di hukum gantung. Ngeri kali.
Semakin lama, manusia semakin berbudaya. Mereka mulai bisa menerima perbedaan. Tapi, lama kelamaan manusia terlalu liberal. Liberalisme yang tak terkendali. Tidak memiliki dasar dan pegangan. Sampai-sampai, mereka melegalkan hubungan atau pernikahan sesama jenis.
With all due respect, saya tidak membenci sedikitpun kaum gay dan lesbian. Saya marah bila ada yang menghina salah satu dari mereka. Saya marah bila ada yang berlaku kasar pada mereka. Saya menghargai mereka sama seperti saya menghargai diri saya. Namun, kita, manusia, diciptakan berpasang-pasangan, ditentukan berpasang-pasangan, dan bukannya sejenis-jenisan. Persamaan derajat wanita dengan pria masih terdengar ganjil, dan maaf saya tidak bisa menyetujuinya karena sampai kapanpun kita tidak pernah sama. Peran kita berbeda, namun sama mulianya di hadapan Allah.

Sahabatku, aku tahu kalian diluar sana.. Menangislah bersamaku, berdoalah bersamaku.. Bagi bangsa dan dunia ini. Bagi mereka yang putus asa. Bagi mereka yang sesat. Bagi mereka yang tertolak. Bagi mereka yang merasakan kekosongan. Mereka butuh Yesus, Sang Juru Selamat.. Start with a pray, you'll be able to change the world :)

Friday, August 13, 2010

Snow in Denpasar, Bali

Siang ini saya di kagetkan oleh prakiraan cuaca yang di buat oleh Yahoo (weather.com).. Hari ini dipastikan CERAH, namun yang membuat ngeri sekaligus senang (jadinya meringis) adalah hari Senin (08/16/2010) dan Selasa (08/17/2010) Denpasar, Bali akan CUKUP BERSALJU.
Brrr... Bakalan kayak gimana yah? Berikut bukti otentiknya (cekidottttt):



Seeeeeeeeeeeeeee...? :) Can't wait! 
P.S: Coba temukan kalimat 'Air Tenang Menghanyutkan' and what is the maksud? -_-


BUAT YANG LAGI DI LUAR BALI, SATU KALIMAT: KESIAN DEH LOOOOO....


Saturday, July 24, 2010

It was sweet, It is bitter


I wish I can be as honest as my friend's sister who could write her love story with a married guy, but I can't.
I realize I have few friends who accidentally knew my personal blog and sometimes read my posts, means I have to be careful if I don't want them to know the exact story. The thing is sometimes people start to guessing then end up with a wrong conclusion, which is sucks.

This post should be about a guy and me but somehow it now become a guy, me, and a girl.
I've been praying for this guy since the end of 2009, I was planning to do this for 2 years. At first it seemed an easy task, just praying once, twice or hundreds in a day, I didn't think about the consequences before (the length time of praying etc).
Well, sometimes I skipped my praying-for-him time, actually there were no special time just used to do it before going to bed. Things went rough, beside we never been having a good relation plus communication, I also easily get bored and having any other, let's say, heart factors.. (hope you understand what i'm saying)
Things became more complicated the day I felt something went wrong, something wasn't right, myself, him, and her. Err.. What to say, I realize that she (might be) fell in love with him.
She never said it straight to me but I am a woman, I do have intuition (though I'm quite realistic and logical). That's what I use as a the-only tool. Never in life I expect that will happen, I was quite shock, disappointed, but then quickly learn to take control back again. The reason why I became shocked and disappointed was she knew that I was praying for this man. Please, don't think that I reacted too much. You will understand how torn it was if you experience the same thing. Time really flew so fast, I have enough time to reflect, think, and put the pieces back again. Wasn't easy but I think I was and still able to, what to say, build a bridge and walk over the river :)
I've made up my mind! I will SLOWLY walk without disturbing both of them.

I got a phone call from an old friend tonite. We haven't spoke like 3 months or more since we got tied up to our stuffs. We had a decent conversation til' it moved to love topic. I used to tell him about my love stories, and he did likewise. So, it was his turn to hear about mine, I was unprepared but had to tell. When I finished telling him, he laughed, which wasn't a surprise coz I will do the same thing if I were him. He told me about his opinions, telling me what to do, this, that. To be honest, I was glad if he put himself as my besties. He's always care and never absent to show his love as a brother. BUT, unluckily, our conversation just brought back all the memories, all the hurt, all the feelings, which I wanted to forget. I think I was about to cry. Then I told him to stop. I just wanna stop and change the topic. He understood then began to talk bout another topic.
I was confused coz of my responses, but then I understand that it's not that easy to cope up and start to walk again after.
I am all good. Now I know how it is to say, Bitter Sweet. We're very acquinted now :)

There's always will a goodbye in every hi. So, guess, this will be a proper media to say..
Though I've failed to finish what I've promised God, I believe in His paths, there are no coincidences. There's always good reason behind every moment. He, our Creator, will do anything and can do everything, perfectly in His time. Goodbye, two years guy. I'm going to fly..



Friday, July 23, 2010

Thank God It's Friday

I love morning breeze. It reminds me of how beautiful my life is and how my Creator has made me :)

Me, finally succeeded, woke up at 7 am this morning. It should be celebrated SINCE I've been having a serious serial day-became-night-became-day.
I slept at 9 pm last nite, with a purpose to wake up at 2 am so that I could finish what I've to. Yes, I did awake at 1 am but enchanted with my bed and the silence of Bali that time. So, I was back to sleep again.

When I opened my eyes this morning, have to admit, I got this guilty feeling in. Remembering, there were lot of stuffs and things need to be done. Aarrgghh..
But then I opened my back door, I breathed in and.. I think I was faint for 5 seconds. I felt I was lost somewhere, or something. It was like in heaven.. (eventhough I've never been in heaven before)
The feeling of happiness, calmness really conquers in. The side effects are countless! I think I can beat anyone, I can finish any math tasks, I can write as many papers as I want, I can do anything, I even think I can flyyy.. Ha!

Well, I got my room tidy after, went to shower, having myself a big cup of coffee and keep sipping it til' now :) I am ready to face any dramas happened today! So full of spirit.
A package from God in the morning.
Really, Thank God It's Friday!




          


                 

GOOD MORNING, TANGERANG BALI!  

Wednesday, July 21, 2010

True love does exist



I've been walking too far. Saw too many things. Trapped in less simple circumstances.
I choose to be what I am now, Independent.
Apathetic seemed to be the closest word to define love.
I forgot how and why I came to this path that love (between men) is illogical, untrustable, grey and bitter.
Maybe it's something relate with the past. Well, it is.

Awakening, mind-opening, heart blasting moment has just happened tonite. I believe in the existence of love.
It crawled silently, deliberately, fulfilling my heart.
I don't want to let go.
True love does exist.



I don't have to write thousands of words to explain how much I love you.
No need to look into your eyes and expecting likewise to say what it hasn't been said.
There will be lot more arguing times. Starts in the morning and ends with a kiss.
You are the most possible possibilities whom God possibly wanted to be with me.
Hence, I want you as much as you want me. You want me as much as I want you, dearly.
Keep this words in mind: My feeling for you hasn't changed, from the moment I wrote this til I met you somewhere, somehow.
Someday, you will find me. I promise. I will be sparkled. I promise. You will notice me. I promise. Until death do us apart. I promise.
As I wait for you, I will remain as independent as I can be. We're not in a rush so take your time.
Be patient, my significant other, I am worth to wait.
Coz I believe, now, that true love, there is..

Tuesday, December 15, 2009

Lets Talk About Sex


Let's Talk About Sex




Siang tadi, saya singgah ke suatu tempat dimana seorang teman biasa mengais rejeki. Satu tempat sederhana tempat baju-baju kotor disulap menjadi baju-baju bersih nan rapih. Perempuan berumur 20an itu menawari saya teh manis untuk mengawali pertemuan kami. Lima menit kemudian, untuk sekedar berbasa-basi, saya bertanya soal kapan dia hendak melangsungkan pernikahan. Pertanyaan itu keluar begitu saja, selain saya memang gemar membahas soal percintaan dengan para wanita, saya tahu bahwa teman saya ini memang lagi asik merajut kisah kasih dengan pacarnya. Jadi pertanyaan itu murni hanya iseng-iseng, dan kelanjutannya, pertanyaan itu berbuah. Berbuah manis dan pahit.
Teman saya menjawab dengan polos, “Mungkin dua tahun lagi, kak Sela”, ada pause sejenak kemudian dia melanjutkan, “memang awalnya orang tua marah, namun setelah saya jelaskan, sekarang mereka agak melunak”. Sedikit bingung, saya balik bertanya, “Lho, marah kenapa?”. Teman saya tidak langsung menjawab pertanyaan yang saya lemparkan, penjelasan yang dia berikan terkesan berputar-putar dan sedikit memaksa saya untuk memahami keadaannya saat ini. Penantian saya berhenti pada saat dia mengucapkan “Yah, kan kami sudah tinggal bareng”. Saya tidak mengedipkan mata selama beberapa detik setelah kalimat itu terucap, entah mengapa dan darimana asalnya, amarah mulai merambah dalam hati saya. Dia masih asik berceloteh, sementara saya mencoba mengerti perubahan emosi yang saya alami sambil meminta pimpinan Tuhan untuk bersikap bijak. Saya memilih untuk menegur secara halus dan berkata, “Kamu udah tahu itu tidak baik, jadi jangan dilanjutkan”. Dia terus membela diri, dengan berbagai alasan dari masalah ekonomi sampai kehendak Tuhan untuk mereka agar terus bersama. Saya berharap, sungguh, dia akan berkata “Kami memang tinggal bareng, tapi kami belum pernah berhubungan sex kok, kak”. Sayangnya, kalimat itu tidak pernah terlontar dari mulutnya. Semakin saya berusaha menyadarkannya, semakin dia bersikeras melegalkan tindakannya. Saya tidak mau berdebat, saya tidak datang untuk berdebat, tempat tersebut bukan tempat yang cocok untuk berdebat dan kalau pun kami berdebat, saya pikir itu hanya akan memperuncing suasana tanpa menemukan solusi, tidak secepat itu. Saya memilih untuk menjadi pendengar. Kemudian dia berkata, “Itu juga salah satu alasan kenapa aku jarang ke gereja, semua orang gereja udah tahu kalo aku tinggal bareng sama pacar”. Tiba-tiba saya teringat akan seorang pria paruh baya yang pernah sharing di ibadah kaum muda kami, dia mengabdikan hidupnya untuk melayani orang-orang yang dianggap sampah oleh masyarakat. Saya mendapat begitu banyak hal untuk direnungkan dan dipelajari ketika mendengar kesaksiannya dan saya mencoba menerapkannya pada teman saya yang lagi curcol ini. Saya berkata, “Jangan gitu donk, tetep dateng ke gereja lah”, dan teman saya pun tersenyum sambil mengangguk. Saya berharap dia bisa datang ke gereja minggu ini. She needs help, means she needs God.

Dalam perjalanan pulang, seperti yang sering saya lakukan, diatas motor saya merenung dan bertanya pada Tuhan “God, what should I do?”. Segala kejadian-kejadian serupa dimasa lalu yang terjadi disekeliling saya, orang-orang yang saya kasihi yang terlibat didalamnya, muncul bagai slideshow, sangat random. Begitu banyak orang-orang disekeliling saya yang ‘luput’ dari doa, pengawasan dan support saya. Tidak jarang, dahulu, saya sering menyalahkan diri saya ketika mendengar ada teman yang hamil diluar nikah atau melakukah hubungan sex pra-nikah (sex bebas). Percaya atau tidak, saya merasa bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang tersebut! Sudah tidak terhitung berapa banyak perempuan dan pria disekeliling saya yang merelakan keperawanannya berakhir dengan jalan pintas, it’s all because of the sake of temporary happiness.

Seorang teman pernah mengemukakan pandangannya soal sex, bagi dia sex merupakan sebuah kebutuhan. Seperti makan nasi, kamu lapar maka kamu makan. Kalau dia sedang ingin having sex, maka dia akan berhubungan sex. Pada saat dia mengemukakan hal tersebut, saya tidak berusaha membantah, saya hanya berkata, “Well, saya punya pandangan yang berbeda”. Bagi saya sex merupakan hal yang suci, diciptakan untuk tujuan mulia. Kalau sudah berkaitan dengan mulia dan suci tentu saja berkaitan dengan Tuhan, Sang Pencipta sex itu sendiri. Sex itu nikmat, kata guru bahasa Inggris saya ketika saya masih duduk di bangku SMP. Dia mengucapkan itu ketika dia baru jadi newlywed. Saya percaya dan setuju! Namun kenikmatan bukanlah tidak memiliki batasan. Batasannya adalah sudah terikat dengan pernikahan (dihadapan Tuhan) kemudian sex digunakan sebagai media untuk mengekspresikan kasih antara pasangan tersebut. Kedengarannya bukanlah hal yang sulit, namun pada pengaplikasiannya manusia sulit untuk melakukan hal tersebut. Saya sudah melihat begitu banyak pasangan ‘kumpul-kebo’ yang memilih hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, pasangan selingkuh, komersialisi sex dan banyak lagi penyimpangan-penyimpangan pengaplikasian sex dalam kehidupan manusia, yang tidak sesuai lagi dengan koridor yang seharusnya (ditetapkan Tuhan). Mereka gagal.

Dahulu, saya merupakan salah satu dari mereka. Saya gagal untuk mengaplikasikan sex yang suci dan mulia dalam kehidupan saya. Saya belum bisa cerita tentang detailnya, saya belum siap untuk bercerita dengan tulisan ini sebagai medianya. Mungkin pengakuan saya saat ini terlihat setengah-setengah, hal ini saya lakukan karena saya tidak mau ada yang menyebut saya munafik atau berpikir bahwa saya gak tahu apa-apa soal sex, setelah saya memunculkan tulisan ini. Saya tahu kok. Namun yang pasti, saya bukanlah saya yang dulu, yang belum mengenal Tuhan. Sekarang, saya merupakan Seila yang baru, yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat yang hidup.

Saya belajar untuk menghargai sex, terlebih lagi untuk belajar menghargai Dia sang pencipta sex itu sendiri. Banyak cara yang digunakan si iblis untuk memperdaya kita, manusia yang lemah and terbatas. Mungkin suatu hal yang luar biasa jika kita manusia yang lemah and terbatas dapat bertahan dari pergaulan sex bebas didunia yang semakin lama semakin jahat ini. Saya menyarankan anda untuk tetap berpegang pada Dia, renungkan firmanNya dan tetap setia dalam doa. Gak ada hal yang gak mungkin di dunia ini, anda pun bisa jatuh dalam dosa sex. Gak usah sok jago. Prestasi, posisi and latar belakang pendidikan nggak bisa menyelamatkan anda dari masalah ini, berpegang deh pada Dia! Jatuh dalam dosa sex atau gagal dalam mengaplikasikan sex yang suci dan mulia bukan hanya berarti you made sex or you lived in the same building with your gf/bf. Oral sex, onani, masturbasi, berpikiran kotor etc merupakan contoh-contah pengaplikasian sex yang salah. Kita, yang memiliki natur berdosa, memiliki persentase yang besar untuk bisa melakukan dosa-dosa tersebut.

Saya tidak mencoba mengutip ayat Alkitab atau kalimat-kalimat dari para pembicara terkenal untuk meyakinkan anda bahwa sex bebas tidak pernah memberikan keuntungan yang permanen. Tulisan ini murni dibuat karena kesedihan saya melihat kebobrokan pemuda di jaman ini. Jangan sia-siakan masa mudamu, kamu berharga bagi Allah! Mengapa harus mencicipi kesenangan yang dapat engkau nikmati nanti, ketika secara umur kamu sudah dianggap matang dan secara psikologis kamu sudah dianggap siap? Mengapa harus menyakiti hati Allah dengan melakukan hubungan sex yang tidak sesuai dengan tujuan yang sudah Allah tetapkan saat Ia menciptakannya? Sex merupakan hal yang suci, yang diciptakan untuk mewujudkan perintah Allah untuk beranak cucu, dan sex merupakan alat untuk mengekspresikan kasih sayang antar pasangan yang sudah menikah di dalam Tuhan. Tidak ada kata kompromi untuk hal yang satu ini. Jangan biarkan dirimu terhanyut oleh kesenangan sesaat. Tidak ada untungnya! Dunia memang jahat, karena itu sudah sepatutnya kita sebagai dombanya tetap berjaga-jaga, seperti dikatakan dalam Roma 12:2
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Kuncinya terletak pada penyerahan diri yang mutlak dan membiarkan Allah berdaulat atas hidup kita. Let Him leads our ways and keep seeking for His Kingdom. Selamat berjuang didunia yang jahat ini, kaum muda! Waspadalah.. Waspadalah!

Monday, December 7, 2009

Harga Sebuah Senyuman




HARGA SEBUAH SENYUMAN






Saya adalah seorang manusia yang telah hidup di dunia ini selama 23 tahun. Selama 23 tahun itu pula, seringkali saya bangun tidur di pagi hari dengan perasaan tidak menentu. Tidak menentu maksudnya bisa berarti banyak hal kecuali bahagia. Kebayang gak sih dari berjuta-juta perasaan (belum pernah ada penelitian yang meneliti banyaknya perasaan manusia sih, namun ungkapan ini sering dipakai untuk menunjukkan kemajemukkan perasaan manusia), saya tidak merasa bahagia ketika bangun pagi. Ada seorang teman yang menyebutnya morning-bad mood, saya sih ikut-ikut aja selama nggak disebut morning-sickness. Saya nggak tahu apakah morning-bad mood ini hanya dirasakan oleh orang-orang spesial seperti saya, ataukah hampir setiap wanita (pernah) merasakannya, atau morning-bad mood ini pernah juga dialami oleh kaum pria (saya belum pernah jadi pria, tapi kalau saya jadi pria, saya janji akan memberitahukannya kepada anda).


Morning-bad mood sering kali membuat saya jengah sendiri karena saya orang yang percaya dengan ungkapan ‘start your day with a smile’. Jadi, it sometimes freaks me out when I found myself hard to smile (in this case, when I woke up in the morning). Siapa sih di dunia ini yang mau harinya jadi buruk? No one, semua orang berharap harinya berjalan dengan baik and mulus. Biasanya kalau saya bangun dengan perasaan kayak gitu, kemungkinan besar, saya tidak akan semangat ngerjain apapun, bergerak 2 detik lebih lambat dari biasanya, kebanyakkan bengong and minim ekspresi muka.


Beberapa hari belakangan ini, morning-bad mood itu sering menghinggapi diriku (halah!). Saya bangun pagi, mengecek handphone (jangan ditiru!), sibuk dengan handphone (ini lebih-lebih, jangan ditiru!), menatap langit-langit seakan ngomong sama Tuhan ‘kok perasaanku aneh ya, Tuhan?’, kira-kira beginilah serangkaian 30 menit pertama ketika saya membuka mata di pagi hari.
Beberapa hari yang lalu, saya bangun dengan morning-bad mood. Saya memutuskan untuk pergi makan tahu tek diseputaran jalan Diponegoro, siangnya. Butuh waktu yang lama untuk akhirnya saya bersiap-siap, seperti yang sudah saya bilang, gerakan saya menjadi 2 detik lebih lambat dari biasanya. Singkatnya, saya sampai ditempat tahu tek yang dijual dengan harga 7000 perak seporsi. Semua berjalan biasa saja sampai ketika minuman saya habis dan saya hendak memesannya lagi. Saya berkata pada asisten chef tahu tek (yang bantu-bantu), ‘pak, minumannya donk, satu lagi.’ (guys, saya bener-bener minim ekspresi muka saat itu). Namun, pria yang kira-kira berusia 32 tahun itu tersenyum kepada saya sambil berkata ‘baik, mbak.’. Saya mendadak meleleh, bukan karena senyuman si asisten yang menawan (ga banget), namun karena disenyumin senyuman polos oleh seorang pria yang mungkin masalah hidupnya lebih banyak daripada masalah hidup saya. Disenyumin ketika saya sedang tidak tersenyum pada dia, rasanya WOW! Tanpa bermaksud ekstrim and hiperbola, tapi di saat yang sama, saya ingin menangis. Menangis terharu. Saya akhirnya punya alasan untuk merasa bahagia. Saya diingatkan untuk merasa bahagia. Lewat sebuah senyuman. Sambil memakan tahu tek, saya banyak merenung, merenungkan hal-hal yang sudah saya lewatkan sebelum saya sampai di tempat tahu tek.


Saya tiba-tiba teringat dengan momen-momen serupa yang pernah saya alami, ketika hati terasa hambar, ada begitu banyak orang yang menghangatkannya hanya dengan sebuah senyuman. Orang-orang tersebut kebanyakkan bukanlah orang yang saya kenal. Pernah suatu kali ada seorang ibu pemilik warung yang juga menjual bensin eceran, pernah juga ada seorang bapak pengendara mobil dan begitu banyak orang-orang asing diluar sana yang menghangatkan hati saya yang dingin. Posisi tiap orang dalam tiap kehidupan seseorang memang berbeda. Untuk orang-orang tersebut, mereka memberi harmoni tersendiri dalam hidup saya. Hanya dengan pertemuan beberapa menit dan mereka membuat saya menyadari bahwa hidup terlalu indah untuk dipandang dari ruang yang sempit. Orang-orang tersebut dipakai Tuhan untuk mengingatkan saya bahwa sebuah hari terlalu indah untuk dijalani dengan bermuram durja. Kenapa saya harus bermuram durja ketika saya harusnya bersukacita untuk segala nikmat yang udah Tuhan berikan?


Hal ini terasa begitu sederhana namun memiliki impact yang cukup kuat dan besar. Bayangkan bila orang-orang tersebut tidak tersenyum, salah satu hal yang tidak akan pernah terjadi adalah saya tidak pernah menyadarinya dan menulis tulisan ini. Sesuatu yang dilakukan pada saat yang tepat dengan porsi yang tepat pasti memiliki daya ‘ledak’ yang hebat.


Harga sebuah senyuman bagi saya tak ternilai harganya. Senyum-senyum mereka sungguh menghangatkan saya ketika dunia saya terasa muram. Ketika saya (berpikir) bahwa saya tidak mempunyai alasan lagi untuk tersenyum, ketika saya merasa tertekan, ketika tidak ada orang disekeliling saya yang bisa mengerti saya, ketika saya sedang minim kekuatan, they showered me with love through a smile. Tanpa bermaksud menyingkirkan posisi Roh Kudus yang (saya percaya) tinggal dalam hati saya, saya sungguh merasa terberkati dengan bagaimana mereka menghibur saya. Mungkin itu adalah salah satu cara Tuhan untuk tersenyum. Ketika saya, yang masih hidup dengan tubuh jasmani ini, tidak dapat memandang Tuhan secara ‘live’, I can see God smiling at me through them.


Tersenyumlah sahabatku ‘coz you might warm one’s cold cold heart with a smile. I am one of the ‘victim’. For those people who have shown me how beautiful life is, for became words when I have nothing to speak, THANK YOU. And God, You are the creator of us all, Your ways always amuse me, THANK YOU for shown me such important lesson. I might forget about this lesson someday, but I know, You will always send me angels to remind me how beautiful my life is. I am a student of God’s school and I am learning to be more like You. Love You, Lord